Alhamdulillah puji syukur atas hidayah yang Allah berikan
kepadaku hingga aku dapat menutupi aurat sesuai perintah dalam firman-Mu..
aku ingin berbagi sedikit pengalamanku tentang bagaimana
awal perjalananku hingga aku menemukan hidayah
untuk berjilbab sampai saat ini.
Aku berjilbab bukan sejak kecil/ sejak awal baligh,
melainkan dengan proses yang panjang untuk dapatkan hidayah itu Karena aku
terlahir bukan dari keluarga yang pernah mengikuti tarbiyah. ibu ku juga tidak
berjilbab dulunya.
Waktu aku masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 6, aku mulai mengenakan jilbab, tetapi dengan lengan pendek , itu juga karena ikut ikut teman hihihi. Kadang dilepas lagi, buka lagi lepaas lagiii yaaaahhh (karena niatnya hanya sekedar fashion, bukan lillahi ta’ala) . sebenarnya aku sejak kelas 6 sudah disuruh oleh murobbi aku dulu untuk mengenakan jilbab ketika hendak keluar rumah. Aku memanggil murobbiku dengan sebutan “ummi”. Dari kelas 6 SD aku sudah ikut ngaji di dekat rumah, tapi setelah lama ummi bilang “ini liqo namanya bukan hanya sekedar ngaji”. Dari situlah aku diperkenalkan “liqo” dan mendapatkan banyak manfaat yang luar biasa dengan ilmu-ilmu yang ummi pernah sampaikan. Allah lah yang memberikan hidayah melalui seorang murabbi, Ummi. Ummi lah yang mengantarkan aku pada jalan yang benar, ummilah yang mengantarkan jilbab kepadaku..
sejak kelas 6 SD aku belum mendapatkan ilmu tentang jilbab,
ummi hanya menyuruhku untuk mengenakan jilbab dan rok saja, jadi aku tubatuba (tutup buka tutup buka)
hehe. Pernah suatu ketika aku datang
kerumahnya, tetapi saat itu aku mengenakan celana jeans (bukan rok), lalu
ditegurlah aku.
Sering sekali aku mendapat teguran dari ummi karena keluar
masih tidak mengenakan jilbab, karena aku masih tubatuba waktu itu L teman teman ku pun
begitu. Godaannya itu banyak sekali.
Waktu masuk SMP aku berniat memakai jilbab dan aku meminta mamah agar dibelikan baju lengan panjang, aku berjilbab dengan alasan takut ditegur ummi lagi, malu.hehe. Niatku dulu belum lurus karena Allah. Dulu aku merasa lebih cantik dengan tidak berjilbab, maka dari itu saat pergi aku tidak mengenakan jilbab (kecuali sekolah). Kalau ke warung atau main dengan teman rumah juga masih suka lepas jilbab dengan alasan malas, gerah, dll. Sehingga kalau misalnya ngeliat ummi, aku buru buru ngumpet biar ga kena tegur, parah yaahh.. wkwkwk .
Pernah juga waktu kelas 2-3 SMP, Aku pernah tomboy. aku itu
merasa tidak nyaman dengan rambutpanjangku, sehingga aku memotong rambutku
percis rambut laki-laki, ntah bagaimana aku dulu bisa separah itu , hingga ummi
yang melihat akupun sampai menangis, karena kelas 1 SMP aku sudah mendapatkan
materi tentang jilbab, tapi itu sia sia, masuk telinga kanan keluar telinga
kiri.
Aku mulai sadar ketika melihat ummi sedih, dan yang membuat
hatiku tersentuh adalah ketika ummi memberikan tausyiah dengan
menyindir-nyindirku. Perlahanpun aku mulai belajar berjilbab dan meluruskan
niatku hanya karena Allah Ta’ala. Dengan aku terus berjilbab, yang kemudian
menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan itulah yang akhirnya punya perasaan malu dan
tidak enak bila tidak mengenakan jilbab. Dengan berjilbab, Alhamdulillah di SMK
aku dipertemukan dengan lingkungan yang baik-baik, teman-teman yang baik,
walaupun itu tidak secara langsung dipertemukan. :’)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar